Siang
itu bel makan siang berbunyi, Nur yang tengah sibuk menghentikan pekerjaannya. Seperti
biasa Nur selalu keluar ruangan bersama sahabatnya Rini, mereka pun bergegas
menuju kantin. Ditengah sela-sela setelah mereka usai makan siang Rini membuka
percakapan.
“Nur
kamu gak ngerasa apa kalau Febri punya perasaan sama kamu”.
Tutur Rini sembari meminum teh botol.
“aahhhh
kamu bisa aja, Febri itu udah aku anggap teman terbaikku Rin. Jadi gak
mungkinlah dia sampe punya perasaan “.Nur yang hanya tesenyum
menanggapi pernyataan Rini.
“kalaoo
emang gak punya perasaan kenaa dia sampe baik banget sama kamu. Di bela-belain
lhoo kamu dibeliin buku Kahlil Gibran yang udah kamu inginkan sejak dulu”.
Pungkas
Rini mencoba meyakinkan sahabatnya itu.
“heheheh
iya juga sich tapi aku kan gak minta Rin”. Nur masih
cengenggesan.
“setidaknya
kasih dia harapan Nur, mau sampai kapan kamu ngejomblo? Jalanin aja dulu
setidaknya mencoba.Belum bisa move on dari Bian?” celetuk
Rini.
Nur terdiam tak bisa menjawab, Rini buru-buru
menyairkan suasana dan bersamaan dengan bel masuk berbunyi. Mereka bergegas
kembali menuju Line (sebutan untuk
departemen proses produksi). Nur yang tiba-tiba sakit perut bergegas menuju
Toilet. Beberapa menit kemudian ketika Nur keluar dari Toilet seseorang
menabraknya dengan tidak sengaja.
“sorry”.Ucap
seorang laki-laki memakai kacamata. Nur yang melihat sosok laki-laki itu tercenggang.
Seperti layaknya drama di televisi yang kemudian berasa semilir angin, Nur tak
berkedip. Laki-laki itu kemudian bergegas pergi.
Di
Line Nur menceritakan kejadian itu kepada Rini, Nur terlihat kegirangan. Sepanjang
siang hingga sore hari Nur terus menceritakan perasaannya itu. Nur yang sangat
suka dengan cowok berkacamata membuat Nur jatuh cinta pada pandangan pertama. Bel
pulang berbunyi dan Nur masih saja bercerita.
“sumpah yaa
Rin dia itu kayak cowok yang di dalam mimpi aku”. Nur masih saja histeris.
“ceritanya
udah bisa move on dari Bian nich?. Celetuk Rini. Nur tampak tersenyum raut
bahagia di wajahnya.
“jngan mudah
jatuh hati Nur, setidaknya kamu harus belajar dari kejadian yang kemaren”.tambah
Rini.
“iya Rin aku cuma
naksir aja kok, lagian aku juga gak tau dia siapa. Tapi tadi dia masuk ke Line
nya Febri dech”. Ujar Nur.
“coba besok
tanya febri aja, biar kamu gak penasaran”. Pungkas Rini.Nur mengangguk
tanda setuju.
Semenjak
kejadian itu Nur lebih sering menemui Febri untuk menanyakan sosok cowok yang
telah menabraknya. Dan diketahui cowok itu bernama Fajar, dia merupakan
karyawan pindahan dari Line tingkat atas. Febri yang sudah sekian lama
menyimpan perasaan haus merelakan sedikit hatinya untuk meraskan patah hati. Dan
sayangnya Nur yang tak bisa melihat sikap tulus Febri sangatlah egois. Febri berusaha
untuk membuat Nur kembali tersenyum , setelah Nur memutuskan hubungan dengan
Bian Nur selalu nampak murung dan banyak bersedih. Usaha Febri untuk mencari
informasi tentang Fajar berharap membuat Nur bahagia dan Febri tetap merasa
dekat dengan Nur. Nampak Febri memberikan foto- foto Fajar yang sengaja ia
ambil ketika dia main ke kos-kosan Fajar, memberikan Nur nomer telepon Fajar
dll. Kini Nur merasa semakin yakin tentang perasaannya terhadap Fajar.
Fajar yang pendiam dan tak banyak bicara membuat Nur
semakin kagum kepadanya. Nur sangat benar dengan perasaannya, semakin dia
memendam perasaannya dia akan terus merasa penasaran dan membohongi dirinya
sendiri. Fajar yang tidak mengetahui siapa Nur dan bagaimana perasaannya,
membuatnya bersikap biasa saja. Hingga pada satu kesempatan ketika Nur yang
sedang mengambil air minum yang bersebelahan dengan Line Fajar.
“berharap
ketemu fajar”. Gumam Nur dalam hati. Tanpa diduga
seseorang berbadan tinggi dan berkacama mata berdiri di dekat Nur yang juga mengambil
air minum. Tangan Nur bergetar, rasanya ingin menoleh memastikan apa benar itu
Fajar. Dan dengan keberanian Nur....
“fajar”.panggil
Nur dan bergegas pergi. Fajar menoleh tanpa tau siapa yang memanggilnya. Seseorang
yang berdiri di dekatnya tanpa berkata Fajar penasaran.
Beberapa
minggu kemudian Nur memberanikan diri mengirim pesan singkat (sms) kepada Fajar.Fajar membalasnya
degan nada ramah,suasana mencair mereka asik smsan. Saling mengunkapkan apa yang telah terjadi,kejadian yang Nur
ceritakan ketika moment mengambil air minum membuat Fajar tertawa. Nur yang
mengagumi Fajar mencoba terbuka,Fajar tak begitu merespon. Fajar lebih memilih
topik lain untuk dibahas daripada membahas perasaan. Nur mencoba mengerti, bisa
berbalas pesan singkat saja membuat Nur sudah merasa bahagia. Dan tak berselang
lama beberapa hari kemudian Fajar sudah jarang membalas pesan dari Nur. Nur
jarang mendapati Fajar di Line nya, Nur tak bisa melihat aktivitas Fajar lagi.
Suatu
hari Nur mendapat kabar Fajar kembali ke Line asalnya dan ia sudah memiliki
pacar. Nur kembali patah hati dan bersedih “awan mendung pun berebut agar
menancapkan tetes airnya lebih dulu pada kulitnya”, Nur tak bisa
menyembunyikan kesedihannya.
Febri mencoba menghiburnya dia hanya ingin melihat
Nur kembali tersenyum tanpa merasa terluka.Nur ingin sendiri dia tak ingin
menyakiti perasaan siapapun termasuk Febri. “patah hati sangatlah
menyakitkan,butuh waktu untuk bisa menyembuhkan luka karena cinta”. Nur tak
bisa mendapatkan cinta Fajar dan begitupun Febri yang tak bisa mendapatkan
cinta dari Nur. Keikhlasan serta kesabaran Febri terhadap Nur tak pernah
sia-sia karena Febri lebih memiliki cinta yang tulus tanpa pamrih “hati ini bagaikan karang yang walau
tergores ombak, ribuan kali akan tetap ditempat menanti ia kembali”.
Nur yang kembali bersedih terbawa perasaan “kau tak tahu betapa dalamnya perasaanku
padamu, karena kau tak perna menyelaminya. Kau hanya bermain perahu diatasnya”.
By:
yang terdalam